Performa baterai saat suhu dingin sering menurun drastis.
Terobosan Baterai EV ini menjawab dua masalah sekaligus.
Pertama, jarak tempuh menjadi jauh lebih panjang.
Kedua, performa tetap stabil di suhu ekstrem.
Dalam pengujian laboratorium, baterai diuji pada suhu sangat rendah.
Hasilnya tetap mengesankan meski suhu mencapai minus 50 derajat Celsius.
Pada suhu tersebut, kepadatan energi masih mendekati 400 Wh/kg.
Angka itu lebih tinggi dibanding banyak baterai premium pada suhu ruang.
Mobil listrik di wilayah bersalju akan sangat diuntungkan.
Penurunan jarak tempuh saat musim dingin bisa ditekan drastis.
Pengguna tidak lagi cemas menghadapi cuaca ekstrem.
Teknologi baterai cair menunjukkan daya tahan luar biasa.
Efisiensi tetap terjaga meski kondisi lingkungan berat.
Hal ini memperluas pasar mobil listrik ke negara dingin.
Produsen dapat menawarkan performa konsisten sepanjang tahun.
Kepercayaan konsumen terhadap EV berpotensi meningkat tajam.
Industri otomotif bisa bergerak lebih cepat menuju elektrifikasi penuh.
Selama ini solid-state battery dianggap masa depan kendaraan listrik.
Banyak perusahaan menginvestasikan dana besar untuk teknologi tersebut.
Namun Baterai Lithium 700 Wh/kg berbasis cair menantang dominasi itu.
Riset ini membuktikan baterai cair masih punya ruang inovasi luas.
Dengan formulasi kimia tepat, performanya melampaui target solid-state.
Terobosan Baterai EV ini bisa mengubah arah pengembangan industri.
Jika produksi massal berhasil dilakukan, dampaknya sangat luas.
Tidak hanya mobil listrik yang akan merasakan manfaatnya.







