RADARPANGANDARAN.COM – Total Cost of Ownership mobil listrik wajib dihitung sebelum beli mobil listrik agar tak rugi biaya jangka panjang dibanding mobil hybrid.
Banyak orang tergiur karena mobil listrik dianggap hemat bahan bakar dan pajak.
Padahal, semua biaya harus dihitung dari awal beli sampai jual kembali.
Konsep ini dikenal sebagai Total Cost of Ownership atau TCO.
Jangan hanya lihat hemat BBM dan insentif pajak pemerintah.
Hitung juga harga beli, servis, depresiasi, dan biaya tersembunyi.
Kalau beli hanya untuk hobi, mungkin tak masalah.
Namun jika ingin hemat nyata, hitungan harus realistis.
Harga Beli dan Biaya Energi
Harga beli mobil listrik masih lebih mahal dibanding mobil hybrid.
Selisihnya bisa mencapai Rp100 juta karena teknologi baterai masih mahal.
Harga terlihat terjangkau karena ada insentif pajak hingga 30 persen.
Insentif ini mencakup pajak impor dan PPnBM.
Tanpa insentif pajak, harga mobil listrik bisa jauh lebih tinggi.
Sementara mobil hybrid memiliki harga awal lebih stabil.
Dari sisi energi, mobil listrik memang terlihat paling hemat.
Jika isi daya di rumah, biaya sekitar Rp255 per kilometer.
Namun pengisian daya memakan waktu lebih lama.
Jika memakai SPKLU fast charging, biaya naik jadi Rp370 per kilometer.
Bandingkan dengan mobil hybrid berbahan bakar bensin.
Pakai RON 92, biayanya sekitar Rp500 per kilometer.
Jika gunakan RON 90 subsidi, sekitar Rp400 per kilometer.
Selisihnya ternyata tidak terlalu jauh.
Apalagi jika mobil listrik sering memakai SPKLU.
Artinya, efisiensi energi tetap tergantung pola penggunaan.
Servis, Pajak, dan Depresiasi
Mobil listrik memang tidak perlu ganti oli rutin.









