RADARPANGANDARAN.COM – Taman tanpa intensi estetika dan indirect beauty.
Secara umum, konsep ini memandang keindahan sebagai konsekuensi ruang, bukan tujuan visual.
Karena itu, pendekatan ini menolak taman sebagai objek tontonan.
Sebaliknya, desainer memposisikan taman sebagai ruang yang bekerja.
Keindahan muncul ketika fungsi, waktu, dan material saling berinteraksi.
Oleh sebab itu, desainer tidak mengejar bentuk indah.
Sebaliknya, mereka menahan diri dari ekspresi berlebih.
Ruang kemudian berkembang melalui penggunaan sehari-hari.
Transisi ini mengubah taman dari komposisi menjadi pengalaman.
Akibatnya, pengguna merasakan keindahan, bukan melihatnya.
Pendekatan ini relevan dalam konteks desain kontemporer.
Selain itu, konsep ini menantang budaya visual instan.
Karena alasan tersebut, taman tidak membutuhkan focal point.
Sebaliknya, taman berperan sebagai latar kehidupan.
Dengan demikian, desainer menempatkan pengalaman pengguna sebagai pusat.
Akhirnya, estetika muncul secara tidak langsung.
Dasar Filosofis Taman Tanpa Intensi Estetika
Secara filosofis, konsep ini berakar pada pemikiran Timur.
Misalnya, filsafat wu wei menekankan tindakan tanpa paksaan.
Dalam praktik taman, desainer tidak memaksakan bentuk.
Sebaliknya, ruang menemukan logikanya sendiri.
Pendekatan ini menolak keindahan yang dirancang eksplisit.
Keindahan lahir dari keselarasan alami.
Prinsip ini juga sejalan dengan gagasan keheningan.
Karena itu, bayangan, tekstur, dan cahaya menjadi elemen utama.
Keindahan tidak berdiri sebagai objek terpisah.







