RADARPANGANDARAN.COM –Â Aging design merupakan pendekatan desain yang sejak awal menerima penuaan alami sebagai keindahan utama ruang.
Secara umum, konsep ini tidak mengejar tampilan taman yang selalu baru.
Sebaliknya, desainer merancang taman agar matang dan bermakna seiring waktu.
Pendekatan ini jelas berbeda dari taman dekoratif instan.
Dalam konsep ini, desainer memperlakukan waktu sebagai elemen desain utama.
Karena itu, desainer memilih material dan tanaman secara sadar.
Aging design taman menolak kesan artifisial yang berlebihan.
Saat ini, banyak arsitek lanskap profesional menggunakan pendekatan ini.
Prinsipnya berangkat dari pemikiran desain yang mendalam.
Salah satu akarnya berasal dari filosofi Jepang klasik.
Desain wabi-sabi menjadi fondasi utama pendekatan ini.
Keindahan pun muncul melalui ketidaksempurnaan dan penuaan alami.
Buku Wabi-Sabi for Artists, Designers, Poets & Philosophers menjelaskan gagasan tersebut.
Selain itu, esai In Praise of Shadows membahas pendekatan serupa.
Keduanya menekankan nilai patina dan jejak waktu.
Oleh karena itu, aging design taman tidak pernah tampak benar-benar selesai.
Filosofi Aging Design dan Akar Wabi-Sabi
Aging design taman berakar kuat pada filosofi wabi-sabi Jepang.
Filosofi ini menerima perubahan sebagai bagian alami kehidupan.
Pendekatan ini memandang material yang menua sebagai jujur dan bermakna.
Desainer tidak berusaha menyembunyikan noda atau kusam.
Sebaliknya, mereka menghargai patina sebagai karakter ruang.
Konsep ini diterapkan luas dalam taman Jepang tradisional.







