Apakah Bayi Benar-Benar Memiliki Bahasa Sendiri?

RADARPANGANDARAN.COM – Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana bayi berbicara dengan cara mereka sendiri, seolah-olah punya bahasa rahasia? Suara ocehan, gumaman, dan tangisan yang mereka keluarkan sering kali membuat orang tua bertanya-tanya. Apakah semua itu hanya bunyi acak, atau ada makna tersembunyi di baliknya?

Tahapan Awal: Ketika Bunyi Jadi Komunikasi

Menurut kajian Developmental Psycholinguistics dari Universitas Harvard (2022), bayi sejak usia 2–3 bulan sudah mulai belajar pola komunikasi non-verbal. Mereka belum mengerti kata, tetapi mulai mengenali intonasi dan ritme suara dari orang dewasa.

Ocehan seperti “agu”, “ba-ba”, atau “da-da” yang lucu, sebenarnya merupakan bagian dari proses panjang menuju bahasa. Para ahli menyebutnya babbling stage, yaitu tahap di mana bayi berlatih otot mulut, lidah, dan pita suara untuk membentuk bunyi bahasa.

Namun, bunyi-bunyi itu belum termasuk “bahasa” dalam arti sistem linguistik. Bahasa, menurut definisi UNESCO, harus memiliki struktur tata bahasa, kosakata, dan aturan makna yang disepakati oleh sekelompok pengguna. Ocehan bayi belum memenuhi syarat tersebut. Jadi, apa yang merupakan bahasa bayi, sebenarnya lebih tepat di sebut pola komunikasi prabahasa.

Fenomena “Parentese”: Bahasa yang Diciptakan Orang Dewasa

Menariknya, meskipun bayi belum punya bahasa sendiri, orang dewasa justru secara alami menciptakan gaya bicara khusus untuk bayi. Fenomena ini dikenal dengan istilah parentese atau infant-directed speech.

Dalam riset University of Washington Institute for Learning & Brain Sciences (I-LABS, 2018), menemukan bahwa di seluruh budaya dunia, mulai dari Jepang, Prancis, hingga Indonesia, orang tua cenderung berbicara pada bayi dengan intonasi lebih tinggi, tempo lambat, dan pengulangan kata. Contohnya: