“mana adeeeknyaa?”, “wah lucu banget yaa~”.
Tujuan linguistiknya? Bayi lebih mudah menangkap ritme dan pola suara. Studi I-LABS bahkan mencatat bahwa bayi yang sering di ajak bicara dengan gaya parentese memiliki kemampuan bahasa lebih baik saat berusia 18 bulan.
Tangisan Bayi: Apakah Ada Artinya?
Beberapa peneliti juga menganggap tangisan bayi sebagai bentuk komunikasi paling awal. Menurut penelitian oleh Priscilla Dunstan Baby Language Project di Australia, tangisan bayi ternyata memiliki pola yang relatif universal:
“Neh” untuk lapar,
“Owh” untuk mengantuk,
BACA JUGA : Taman Minimalis Anti Berantakan, Solusi Banyak Sepatu di Teras dengan Area Transisi KeringBACA JUGA : Taman Minimalis dengan Ventilasi Roster, Rahasia Garis Bayangan yang Bikin Rumah Makin Estetik!“Heh” untuk tidak nyaman.
Meskipun bukan sistem bahasa formal, teori ini menunjukkan bahwa bayi secara naluriah mengembangkan kode vokal biologis untuk kebutuhan dasar. Jadi, dalam batas tertentu, bayi memang “berkomunikasi” dengan sistem bunyi yang bermakna.
Apakah Bisa Disebut Bahasa?
Secara ilmiah, jawabannya “tidak sepenuhnya”. Yang disebut “bahasa bayi” lebih tepat digolongkan sebagai pra-linguistik communication, yaitu bentuk komunikasi sebelum anak menguasai bahasa sesungguhnya. Penting anda ketahui bahwa fase ini sangat menentukan masa depan kemampuan berbahasa anak.
Dalam usia 6–12 bulan, bayi mulai mengasosiasikan bunyi dengan makna. Saat mendengar kata “mama” atau “susu” berulang kali, otak bayi membuat koneksi antara bunyi dan objek nyata. Pada usia 1 tahun, bayi mulai meniru, inilah awal bahasa sejati.
Jadi, apakah bayi punya bahasa?
Jawabannya : Tidak dalam pengertian formal, tapi ya dalam konteks komunikasi alami.
Bayi memiliki sistem bunyi, ekspresi, dan tangisan yang bermakna secara biologis dan emosional. Mereka “berbicara” dengan caranya sendiri, sementara orang dewasa merespons dengan gaya parentese yang memperkuat koneksi dan membantu perkembangan bahasa.
Dengan kata lain, sebelum anak bisa berkata “Mama”, mereka sebenarnya sudah berkomunikasi sejak hari pertama. Bukan dengan kata, tapi dengan irama naluri manusia: suara.










