RADARPANGANDARAN.COM — Autisme pada orang dewasa juga perlu ditangani secara serius, bukan untuk “menghilangkan autisme”, tetapi untuk membantu seseorang bisa hidup produktif, nyaman, dan tidak terus menerus merasa kewalahan secara mental ataupun sensorik.
Autisme bukan penyakit yang bisa di sembuhkan, ini kondisi neurodevelopment yang menetap seumur hidup. Maka yang harus anda lakukan bukan “menyembuhkan”, tetapi “mengoptimalkan fungsi”. Supaya seseorang tetap berdaya, tetap bisa berkarya, dan tetap bisa hidup secara layak dengan kondisi otaknya sendiri.
Langkah Pertama: Validasi Diri
Cara pertama mengelola autisme dewasa adalah dengan mengakui bahwa otak bekerja dengan cara yang berbeda. Banyak orang autis dewasa tumbuh dengan rasa tidak nyaman, merasa selalu salah, atau harus memaskinkan diri demi sesuati standar sosial tertentu.
Maka, langkah awal yang paling sehat justru menerima bahwa cara memproses sosial, emosi, sensorik dan komunikasi memang berbeda. Setelah itu barulah bisa merancang strategi coping yang tepat.
Konsultasi Profesional Adalah Pilihan Paling Aman dan Terarah
Apakah harus konsultasi dengan dokter? Jawabannya: sangat direkomendasikan.
Lembaga medis dunia seperti National Institute of Mental Health (NIMH) menekankan bahwa diagnosis profesional dapat membantu menentukan terapi pendukung yang tepat.
Di Indonesia, evaluasi dapat anda lakukan melalui psikiater, psikiater anak-dewasa, dokter tumbuh kembang, atau psikolog klinis. Dengan penilaian profesional, rencana terapi tidak berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan struktur gejala yang benar. Ini penting karena autisme pada orang dewasa sering tumpang tindih dengan kecemasan, ADHD, depresi, hingga sensory processing disorder.













