Tidak hanya untuk membayar belanja online, e-wallet juga digunakan di kafe, restoran, transportasi, hingga warung kecil. Promo cashback dan kemudahan transfer antar pengguna semakin memperkuat popularitasnya.
Kebiasaan ini mendorong terbentuknya cashless society, di mana masyarakat mulai meninggalkan uang tunai dan beralih sepenuhnya ke pembayaran digital.
Selain e-wallet, tren yang tak kalah menarik adalah investasi online. Jika dulu investasi identik dengan orang berpenghasilan besar, kini siapa pun bisa memulai hanya dengan modal Rp10.000.
Platform seperti Bibit, Ajaib, Bareksa, hingga Pluang menawarkan akses mudah ke berbagai instrumen keuangan: saham, reksadana, emas, hingga aset kripto.
Bagi generasi milenial dan Gen Z, investasi digital bukan hanya cara menumbuhkan uang, tetapi juga bagian dari gaya hidup modern. Mereka belajar merencanakan keuangan sejak dini, meski sebagian masih terjebak dalam tren “ikut-ikutan” tanpa memahami risiko.
Perkembangan fintech berkontribusi besar pada percepatan ekonomi digital Indonesia. Beberapa dampak positifnya antara lain, Inklusi keuangan meningkat sehingga masyarakat yang sebelumnya sulit mengakses bank kini bisa menabung dan bertransaksi digital. UMKM terbantu, saat ini pedagang kecil bisa menerima pembayaran digital tanpa perlu mesin EDC. Perekonomian lebih efisien, dengan transaksi cepat, mudah, biaya lebih murah, dan transparansi lebih tinggi.
Tak heran, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi salah satu pusat ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Saatnya Pahami Literasi Finansial dan Segala Risiko Digital
Meski penuh peluang, perkembangan fintech juga membawa tantangan. Hal ini tentu sangat penting untuk kita sama-sama pahami, agar kita tidak menjadi korban dari segala bentuk kejahatan dari pihak terrtentu yang tidak bertanggung-jawab dengan memanfaatkan kemajuan ini.
- Literasi finansial rendah
Banyak pengguna belum memahami cara mengatur keuangan, sehingga terjebak konsumtif karena tergoda promo dan cashback. - Pinjaman online ilegal
Fenomena pinjol ilegal masih menjadi masalah serius, menjerat masyarakat dengan bunga mencekik. - Keamanan data pribadi
Kasus kebocoran data menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika data keuangan disalahgunakan untuk penipuan. - Investasi bodong
Minimnya pemahaman membuat banyak orang mudah terjebak investasi palsu dengan iming-iming keuntungan besar. - Untuk menghadapi tantangan tersebut, literasi finansial digital harus menjadi prioritas. Generasi muda perlu dibekali pemahaman tentang cara menyusun anggaran dan menabung, prinsip dasar investasi dan manajemen risiko, waspada terhadap penipuan digital dan pinjol ilegal.
Pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri fintech perlu bekerja sama membangun kesadaran ini agar masyarakat tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijak mengelola uang.







