RADARPANGANDARAN.COM – Pantai Selatan Jawa Barat, dari ujung Pangandaran, Tasikmalaya, Garut hingga Sukabumi, tengah berkembang pesat sebagai destinasi wisata favorit.
Ombak yang menawan, pantai yang eksotis, hingga kekayaan ekosistem laut menjadi magnet kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Namun, di balik geliat ekonomi pariwisata yang semakin terasa, ada tantangan besar yang mengintai: ancaman kerusakan lingkungan.
Pertumbuhan pariwisata, jika tidak diiringi dengan pengelolaan yang bijak, justru bisa merusak keindahan alam yang menjadi daya tarik utama.
Tiga isu besar yang kini mencuat adalah sampah, abrasi pantai, dan dampak pembangunan terhadap ekosistem laut serta darat.
1. Sampah Wisata, Masalah yang Masih Sering Terjadi
Kunjungan wisatawan yang terus meningkat membawa konsekuensi terhadap timbulan sampah. Plastik sekali pakai, botol minuman, hingga sisa makanan kerap menumpuk di bibir pantai. Banyak lokasi wisata pantai di selatan Jawa Barat yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu.
Ironisnya, sebagian sampah berakhir ke laut, mencemari ekosistem pesisir, bahkan mengancam kehidupan biota laut seperti penyu, ikan, dan burung laut.
Tidak jarang, wisatawan asing yang datang justru mengeluhkan kondisi kebersihan ini, yang berpotensi menurunkan citra pariwisata di mata dunia.
2. Fenomena Abrasi Pantai yang Diperburuk Aktivitas Manusia
Abrasi pantai bukan fenomena baru di selatan Jawa Barat, namun aktivitas pariwisata mempercepat prosesnya. Pembangunan penginapan, kafe, hingga area parkir yang terlalu dekat dengan bibir pantai memperlemah vegetasi alami seperti cemara laut dan mangrove, yang seharusnya menjadi penahan gelombang.







