RADARPANGANDARAN.COM- Ponsel merupakan bagian hal yang tak terpisahkan dari kehidupan di zaman yang modern ini.
Hampir setiap aktivitas, mulai dari komunikasi, pekerjaan, hiburan, hingga transaksi keuangan, bergantung pada perangkat pintar ini.
Namun, fenomena membeli ponsel dengan harga selangit memunculkan perdebatan: apakah ponsel mahal benar-benar kebutuhan nyata, atau sekadar simbol gengsi di mata publik?
Ponsel Mahal Jadi Tren Gaya Hidup
Masyarakat semakin sering menjadikan ponsel mahal sebagai bagian dari gaya hidup. Brand ternama seperti Apple dan Samsung merilis seri premium yang langsung menarik perhatian.
Banyak orang berlomba-lomba membeli seri terbaru, meskipun perangkat lama masih berfungsi dengan baik. Fenomena ini tidak lepas dari dorongan untuk terlihat lebih modern dan mengikuti tren.
Ponsel mahal tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda status sosial. Ketika seseorang menggenggam ponsel premium, citra mereka di mata orang lain ikut naik.
Fitur Premium Jadi Alasan Rasional
Di sisi lain, sebagian masyarakat membeli ponsel mahal karena alasan fungsional. Produsen memang membekali perangkat kelas atas dengan fitur premium, seperti kamera beresolusi tinggi, prosesor cepat, memori besar, dan keamanan canggih.
Fitur-fitur tersebut mendukung kebutuhan kerja profesional, misalnya bagi content creator, desainer, hingga pebisnis yang bergantung pada performa ponsel.
Dalam konteks ini, ponsel mahal tidak lagi sekadar simbol gengsi, melainkan alat kerja yang meningkatkan produktivitas. Dengan kata lain, kebutuhan nyata bisa menjadi alasan kuat di balik keputusan membeli perangkat premium.
Tekanan Sosial dan Budaya Konsumtif
Namun, tidak sedikit orang yang membeli ponsel mahal karena terjebak tekanan sosial. Lingkungan pertemanan, tren media sosial, hingga strategi pemasaran agresif mendorong mereka merasa wajib memiliki perangkat terbaru.













