Nah, di Palu, Farid Makruf menjadi wakil Penanggung Jawab Kendali Operasi (PJKO) Operasi Tinombala.
Kemudian Operasi Madago Raya yang memburu kelompok sipil bersenjata Mujahiddin Indonesia Timur.
Bertugas di Palu, tak ubahnya mengulang apa yang sudah dikerjakannya di Mataram, NTB.
Di Bima, dia melakukan upaya menghadang laju tumbuhnya radikalisme. Saat gempa bumi Lombok 2018, ia menjadi Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Darurat Bencana.
Itu pula yang dihadapinya pasca bencana dahsyat Padagimo – Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong.
Selain menjalankan tugas keseharian sebagai komandan satuan, ia juga menjadi Komandan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sulteng.
Gaya kepemimpinannya di satuan militer dan penugasannya bersama orang-orang sipil terpola dengan baik.
Farid Makruf punya prinsip; Pemimpin yang baik itu tak harus berharap pujian, Ia cuma berpikir apa yang dilakukannya bisa bermanfaat buat orang banyak.
“Menjadi pemimpin itu berarti harus bermanfaat buat orang banyak,” kata anak lelaki pasangan H. Raden Mochammad Munir dan Hj. Siti Amina ini.
Kemampuannya melakukan penggalangan para pihak patut diancungi jempol.
Para Akademisi, komunitas budayawan, seniman, pecinta senjata tradisional, dan olahragawan diajaknya bertemu.
Mulai dari berdiskui hingga membuat kegiatan-kegiatan edukatif dan informatif, bahkan menerbitkan sejumlah buku.
Buku Tadulako, Leluhur Sulawesi Tengah; Dari Mitos ke Realitas yang ditulisnya dianggap sebagai salah satu buku referensi akademik yang penting.













