Walaupun sebagian orang menilainya sekadar kebetulan, cerita tumbal tetap menjadi mitos yang melegenda.
3. Larangan memakai baju hijau
Larangan memakai baju hijau ketika berkunjung ke pantai Pangandaran sudah dikenal luas. Konon, warna hijau menjadi warna kesukaan Nyi Roro Kidul.
Masyarakat percaya siapa pun yang mengenakan pakaian dengan warna itu bisa “dipanggil” ke dalam laut untuk menjadi bagian dari pengikutnya.
Walaupun tidak ada bukti ilmiah, masyarakat tetap menjaga larangan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap penguasa laut selatan. Wisatawan pun sering memilih aman dengan tidak mengenakan pakaian berwarna hijau.
4. Makam anak angkat Nyi Roro Kidul
Selain kisah tentang laut, Pangandaran juga dikenal memiliki makam yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan anak angkat Nyi Roro Kidul. Lokasi makam tersebut sering menjadi tujuan ziarah bagi sebagian masyarakat.
Orang-orang yang berkunjung biasanya berdoa, menyalakan kemenyan, atau memberikan sesaji. Tradisi ini memperkuat keyakinan bahwa hubungan manusia dengan Nyi Roro Kidul tidak hanya sebatas cerita, tetapi juga terwujud dalam praktik keagamaan dan budaya lokal.
5. Amukan Nyi Roro Kidul
Amukan Nyi Roro Kidul sering muncul dalam cerita rakyat. Masyarakat kerap mengaitkan ombak besar, badai, dan gelombang ganas di laut selatan dengan kemarahan sang penguasa laut.
Ketika kecelakaan laut atau bencana terjadi, mereka langsung menafsirkannya sebagai tanda amarah beliau. Meski ilmu pengetahuan mampu menjelaskan fenomena tersebut sebagai dinamika alam, kisah mistis tetap bertahan dan melekat sebagai identitas Pangandaran.
Pengaruh mitos terhadap pariwisata
Menariknya, mitos yang ada di Pangandaran tidak mengurangi minat wisatawan, justru sebaliknya. Banyak orang datang ke sini bukan hanya untuk menikmati keindahan pantai, tetapi juga untuk merasakan nuansa mistis yang menyelimutinya.













