RADARPANGANDARAN.COM – Desa ini dikenal sebagai kampung moderasi beragama dan mitra berbagai program wisata. Namun, informasi eksplisit terkait Kampung Cintakarya masih terbatas. Meski demikian, wilayah ini memang memiliki potensi besar dalam bidang kerajinan kayu.
Di sekitar Kalipucang dan desa-desa sekitarnya, banyak pengrajin kayu fokus membuat ukiran mebel dan souvenir. Produk yang mereka hasilkan beragam, mulai dari mebel berukir hingga souvenir khas berbahan kayu. Oleh karena itu, pengrajin lokal menjadi tulang punggung pengembangan seni ukir di daerah ini.
Aktivitas Pengrajin dan Ciri Khas Ukiran
Para pengrajin di Desa Cintakarya mengolah kayu dengan teknik tradisional, seperti tatah dan sungging. Mereka menghasilkan ukiran yang halus dan detail, memadukan motif flora dan fauna khas Sunda. Misalnya, daun, bunga, burung, dan naga menjadi inspirasi utama.
Selain itu, pengrajin juga membuat berbagai produk seperti cobek kayu, piring kayu, dan gagang keris. Motif ukiran ini menunjukkan kuatnya pengaruh budaya Sunda pada seni lokal. Tidak mengherankan, karya mereka diminati oleh wisatawan lokal dan pembeli dari luar daerah.
Harga Produk dan Sistem Pemesanan
Harga produk ukiran kayu di Cintakarya cukup bervariasi. Souvenir kecil seperti gantungan kunci dihargai mulai puluhan ribu rupiah. Sementara mebel berukir dengan ukuran sedang seperti kursi atau meja bisa mencapai jutaan rupiah, tergantung kerumitan ukiran dan kualitas kayu.
Pengrajin lokal biasanya menerima pesanan langsung. Mereka siap memberikan estimasi harga berdasarkan jenis produk dan tingkat kesulitan ukiran. Dengan demikian, pembeli bisa mendapatkan produk sesuai kebutuhan dan anggaran.
Observasi dan Cerita dari Pengrajin
Bertemu dengan seorang pengrajin di Cintakarya mengungkap semangat mereka menjaga tradisi. Mereka mewarisi teknik tatah dan sungging secara turun-temurun. Proses pembuatan ukiran tidak hanya soal seni, tapi juga kebanggaan budaya.












