Program konservasi ini menjadi bahan edukasi menarik bagi siswa, karena mereka dapat menyaksikan langsung bagaimana satwa endemik dilestarikan.
4. Green Canyon (Cukang Taneuh)
Bagi yang ingin belajar tentang geografi alam, Green Canyon atau Cukang Taneuh menjadi pilihan tepat.
Tebing karst yang menjulang, aliran sungai jernih, serta vegetasi riparian menjadi laboratorium hidup untuk mempelajari proses geologi.
Saat ini pengelola bersama pemerintah dan PLN juga memperkuat konsep ekowisata berkelanjutan, mulai dari pembatasan jumlah pengunjung, penerapan standar keselamatan, hingga pemberdayaan masyarakat lokal.
5. Gerakan Komunitas dan Penanaman Mangrove
Tidak berhenti di destinasi, Pangandaran juga dikenal dengan gerakan komunitas yang konsisten menanam mangrove.
Pada 2024, misalnya, TNI AD bersama warga menanam lebih dari 1.500 bibit mangrove di kawasan Karang Tirta–Sidamulih.
6. Peran Pemerintah Daerah
Pemkab Pangandaran pun tak tinggal diam. Melalui program MELESAT (Mandiri, Ekonomi kuat, Lestari, Sehat, Agamis, Terdepan), pemerintah daerah menempatkan kesadaran lingkungan sebagai salah satu pilar pembangunan.
Program ini mengintegrasikan wisata edukasi dengan penguatan karakter anak muda, sehingga visi besar Pangandaran sebagai destinasi wisata berkelas dunia dapat berjalan beriringan dengan keberlanjutan alam.
7. Manfaat untuk Generasi Muda
Bagi generasi muda, kehadiran wisata edukasi lingkungan ini memiliki banyak manfaat. Mereka tidak hanya berlibur, tetapi juga memperoleh wawasan tentang mangrove, penyu, banteng jawa, hingga ekosistem karst.







